Rabu, 09 Mei 2018

Mental Breakdown

Pernah dilecehkan? Dihina? Aku kira sebagian besar atau bahkan semua orang pernah mengalaminya.
Perasaan saat aku dilecehkan masih terasa sampai sekarang. Karena memang hal itu masih terjadi. Mungkin sebagian orang masih belum paham bagaimana seriusnya efek yang bisa ditimbulkan akibat penghinaan yang mereka lontarkan kepada orang lain. Hanya, kali ini aku akan menceritakan apa yang aku rasakan saja. Dan ini dibalik semua kekuranganku, yang mungkin membuat mereka muak terhadapku.
Dari kecil, aku selalu dihina pendek. Bahkan mentalku sudah dicabik sedini ini. Kalian tahu, bagaimana seorang anak SD yang dicap sebagai anak yang ‘menjijikkan’ hanya karena ia tidak dikenal dalam sebuah sekolah? Aku memang pernah bercerita sekilas tentang bagaimana aku dibully. Tapi bahkan terkadang keluargaku juga sering menghinaku, di depan orang banyak. Dari situ, aku merasa tidak menjadi orang yang berguna. Selama SMP, bukan tidak mungkin aku menjadi orang yang ingin memberontak. Saat itu aku hanya merasa tidak terima atas semua kejadian yang menimpaku. Mungkin itu suatu bentuk luapan emosi yang selama itu tidak bisa aku katakan. Dari sinilah aku menjadi orang yang introvert dan tidak mudah percaya dengan orang lain, karena bahkan orang terdekatmu bisa mengkhianatimu. Seperti pada saat aku bercerita sebuah rahasia kepada salah seorang sahabatku. Lalu suatu hari dengan mudahnya ia menceritakan rahasia tersebut di depanku dan teman-temanku dalam sebuah lelucon.
Setiap hinaan yang mereka katakan kepadaku terukir dan merusak mentalku. Benar-benar merusak. Bahkan jika dihitung, aku akan lebih mengingat kejadian buruk daripada bahagia. Sebegitu trauma nya kah aku?
Kemudian ada saat dimana aku mulai bisa menyukai orang lain dengan baik. Tapi kemudian dia mengkhianatiku sampai membawaku ke dalam trauma lain.
Hingga aku pernah merasa bahwa aku mempunyai ‘alter ego’.
Seseorang yang berharga tentu akan selalu berusaha ia lindungi. Tapi mungkin aku tidak seberharga itu. Lagi-lagi orang menghinaku dengan mengatakan ‘alter ego itu tidak ada. Kamu hanya mengarang blabla’. Bagiku itu sebuah penolakan mental. Rasanya, aku ingin bisa jatuh tanpa sakit, tapi ternyata ia tidak menopangku. Aku ingin mengurangi rasa sakit, tapi yang aku dapatkan malah sebaliknya.
Sesuatu seperti catcalling dan physical abuse tentu juga pernah aku alami. Hal lain yang masih aku terima sampai sekarang adalah body shaming. Bahkan teman terdekatku, atau seseorang yang lebih dari itu masih melontarkan kata-kata tidak pantas itu, secara ‘teratur’. Sebenarnya, apa kalian tahu bagaimana buruknya aku dibelakangmu sesaat setelah kalian menusukku seperti itu? Aku rela mati-matian berusaha mengubah apa yang menjadi bahan olokan kalian. Bahkan stres saat aku gagal. Karena apa? Takut untuk mendengar kata-kata itu lagi.
Oh ya, aku juga sering mendengar ‘bagaimana bisa kamu punya teman? Kamu bahkan tidak tahu bagaimana caranya blabla. Sampai kapanpun kamu tidak akan bisa punya teman’.
‘kamu itu sok depresi’
‘mana bisa kamu ngelakuin hal itu?’
‘kamu itu gak sepintar aku’
‘dasar lemah’
Sangat ingat kepada kalimat-kalimat itu, yang dikatakan oleh orang-orang terdekatku.

Apa yang sebaiknya aku katakan pada mereka? Terima kasih?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar