Rabu, 27 Desember 2017

My Acceptance

I’m like “yaas!”. Tidak terasa ternyata sekarang sudah memasuki tahun ke-1,5 ku menjadi mahasiswa Ilmu Komunikasi di UPN. 3 semester sudah terlewati! Lets get back on a year ago.
Setelah melalui perjuangan panjang memilih mana yang harus aku ambil di perkuliahan nanti, akhirnya kuputuskan untuk mengambil jurusan Sastra Inggris. Mengapa Sastra Inggris? Karena banyak orang-orang yang support aku dan bilang “kamu pinter bahasa inggris”. Oh, well, I’m not that good really! Akhirnya aku beranikanlah mendaftar SNMPTN Sastra Inggris di Unair pada pilihan pertama. Untuk pilihan kedua dan ketiga? Aku kosongkan... Well itu karena banyak yang bilang kalau hanya memilih satu maka peluang diterima akan lebih besar karena hanya mempunyai satu prioritas. But unfortunately I didn’t make it. Mungkin karena ada 3 siswa lain dari sekolahku yang juga mendaftar (p.s: satu diantaranya adalah saingan bagiku). Dang! I should face SBMPTN. Tidak dibekali dengan bimbingan belajar yang harganya super mahal... Hanya bimbingan di kelas, yang meskipun saat penggolongan kelas aku ranking 2 dan masuk dalam kelas unggulan, nyatanya it ruined me still. I hated economics, a lot. Aku tetap tidak bisa menyerap ilmu ekonomi. Cari-carilah try out dan akhirnya coba ke try out Unair. Saat itu tidak terlalu serius mengerjakan, hanya sepengetahuanku dan atas dasar insting. Sekalian mencari tahu tentang passing grade Sastra Inggris untuk dicocokkan dengan hasil try out ku. Setelah beberapa hari keluarlah hasilnya. Aku ranking 82 dari 772 peserta. Not gonna lie tapi itu membuatku semangat.
Saat akan daftar SBMPTN, aku bingung karena apa aku hanya akan memilih Sastra Inggris? Orangtuaku menyuruhku memilih setidaknya dua pilihan, but I really didn’t have any idea. Aku sangat pemilih saat itu. Pertama: tidak mau memilih jurusan Manajemen, Akuntansi dan sebagainya karena berkaitan dengan ekonomi; kedua: tidak mau memilih jurusan Hubungan Internasional, Hukum dan sebagainya karena berkaitan dengan politik. I hated economics and politics. Astaga! Aku melupakan sesuatu yang penting.
Aku menyukai desain. Aku suka menggambar, membuat kerajinan, dan aku selalu semangat ketika pelajaran seni. Sebenarnya hanya tiga pelajaran yang aku ikuti dengan semangat; bahasa inggris, seni, dan olahraga. Singkat cerita aku ingin jurusan Desain Interior di ISI Jogja. Tapi orangtua tidak mengizinkan karena terlalu jauh. Kenapa tidak ITS? Karena tes masuknya IPA, dan aku tidak yakin bisa masuk tanpa bimbingan keras. Aku sangat sedih karena tidak bisa mencoba mendaftar.
Aku jalan-jalan untuk melihat semua universitas negeri yang ada di Surabaya. Ketika melihat gedung FIB Unair, hatiku langsung leleh dan mulailah berandai-andai (of course i did!). Lalu ketika masuk ke UPN, aku langsung kaget. Sangat berbeda dari Unair, Unesa dan ITS. Saat melewati gedung kuning bertuliskan FISIP, aku sempat mengumpat “ih jalannya kok belum paving, panas lagi.”
Oke, setelah menerka-nerka jurusan apa yang pas, akhirnya aku memilih Ilmu Komunikasi. Sebenarnya alasan memilih jurusan ini sangatlah random, yang penting tidak memiliki kedua unsur diatas (ekonomi dan politik (setahuku dulu)). Terdaftarlah tiga pilihan untuk SBMPTN yaitu; 1: Sastra Inggris Unair, 2: Ilmu Komunikasi Unair, dan 3: Ilmu Komunikasi UPN. Saat tiba tes di Unesa, gips di ruanganku tiba-tiba ambruk dan hampir mengenai peserta lain. What the heck? Dan saat melihat soal-soal, aku langsung ciut.
Beberapa minggu setelahnya, mengetiklah www.sbmptn.ac.id. Oke, aku langsung menangis. Literally.
Sebenarnya hal yang paling membuatku tidak nyaman adalah karena aku tidak diberi kesempatan mendaftar di Desain Interior. Itu membuatku terpuruk selama sekitar satu tahun. Karenanya, saat semester satu aku tidak benar-benar mengikuti kuliah dengan baik. Sampai suatu ketika ada yang selalu berkata padaku bahwa aku harus pintar, aku harus ikut organisasi, aku harus aktif. Itu membuatku sangat tidak nyaman, apalagi dengan keterpurukanku. Tapi aku memang orang yang mudah tidak terima. Semester dua aku mencoba ikut beberapa kepanitiaan dan melakukan ini-itu. Sampai suatu ketika akhirnya orang itu mengakuiku.
Ilmu Komunikasi. Hmm, sepertinya aku meleset untuk menghindar dari dunia politik. Bukan karena jurusannya, tapi karena fakultas yang menaungi jurusanku. Ingat umpatanku pada gedung kuning? Itulah gedung dimana aku belajar sekarang. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Dang.
Awal-awal kuliah sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi tidak begitu spesial, itu karena kekecewaanku saja makanya menjadi datar. Terlebih karena memang kuliah sangat santai. Saat UTS pun bisa pergi dengan teman-teman ke pantai. Sampai yang aku suka dari jurusan di kampus ini adalah laboratoriumnya, yang kemudian ‘seakan’ berubah menjadi media. Ada tv, film, advertising, radio dan fotografi. Aku memilih media film yang disebut Kinne Komunikasi.
Semester dua seperti mencari cara untuk mendapatkan energi baru. Tidak boleh terus-terusan stuck dan kecewa. Dan akhirnya itu membuahkan hasil. Setidaknya nilaiku baik. Kemudian semester 3. Ini seperti menjadi sosokku yang baru. Berusaha mencari ini-itu, handle ini-itu, daftar ini-itu. Di akhir semester sepertinya aku yang dulu telah kembali. Orang yang perfeksionis dan keras. Karena aku sudah punya tekad dan tujuan. Aku menerima keadaanku sekarang, dan aku nyaman. Menjadi mahasiswa Ilmu Komunikasi ternyata tidak buruk. Setidaknya aku dapat berbicara dengan menggunakan ilmu yang pernah aku pelajari. Haha! After all itu hanya tentang keinginan yang dalam. Aku masih ingin menjadi desainer, dan jika Allah menghendaki maka aku masih akan berusaha mendapatkannya. My decision is to accept it, and get it when its the right time.

Memang hal yang diinginkan belum tentu baik untuk kita. Tetapi kita tidak tahu apakah kita memang tidak layak mendapatkannya ataukah harus berusaha mendapatkannya. Setiap detik mempunyai arti, setiap arti mempunyai tujuan. Apabila kita berusaha dan selalu meminta petunjuk-Nya, jalan akan dipermudah, inshaAllah.


Rabu, 13 Desember 2017

Masks, Should We Put You On?

Aku pikir memang kebanyakan orang membuat bermacam-macam topeng. Mereka memakainya sesuai dengan situasi dan kondisi. Tapi kadang aku juga berpikir, bukankah itu berarti hanya sebuah pengkondisian diri terhadap situasi tertentu? Sebenarnya bermacam-macam alasan dilakukan ketika memutuskan untuk memakai topeng. Salah satunya adalah karena tidak ada yang boleh melihat siapa dia sebenarnya. Mungkin karena dia ingin diakui oleh lingkungan, takut diremehkan, takut dicaci, dan lain sebagainya.
Lalu, apakah memakai topeng itu wajar? Ataukah kita memang harus menjadi diri sendiri saja? Karena tidak peduli bagaimana sifat kita, orang-orang yang benar-benar peduli akan tetap ada. Tapi.. Bagaimana jika kita yang sebenarnya adalah orang yang memberikan hal negatif kepada orang-orang? Tentunya 'orang yang peduli' juga tidak sebaik itu bukan? Meski mungkin memang ada, tapi tidak banyak.
Aku pernah mendengar seseorang berkata bahwa saat marah adalah saat bukan menjadi diri sendiri. Tapi menurutku saat marah adalah justru menjadi diri sendiri. Karena saat marah kita cenderung tidak dapat mengontrol emosi dan perasaan kita. Dimana emosi dan perasaan itulah yang sebenarnya ada dalam diri kita. Bagaimana kita bersikap adalah kita yang sesungguhnya. Karena bagiku tidak mungkin orang marah dengan menjadi orang lain.
Dan bagiku, hanya orang-orang terdekat yang bisa mengetahui siapa diri kita sebenarnya. Kita cenderung bebas dan secara tidak sadar kita melepas topeng dan seperti 'inilah aku'.