Pernah dilecehkan? Dihina? Aku kira sebagian besar atau
bahkan semua orang pernah mengalaminya.
Perasaan saat aku dilecehkan masih terasa sampai sekarang. Karena
memang hal itu masih terjadi. Mungkin sebagian orang masih belum paham
bagaimana seriusnya efek yang bisa ditimbulkan akibat penghinaan yang mereka
lontarkan kepada orang lain. Hanya, kali ini aku akan menceritakan apa yang aku
rasakan saja. Dan ini dibalik semua kekuranganku, yang mungkin membuat mereka
muak terhadapku.
Dari kecil, aku selalu dihina pendek. Bahkan mentalku sudah
dicabik sedini ini. Kalian tahu, bagaimana seorang anak SD yang dicap sebagai
anak yang ‘menjijikkan’ hanya karena ia tidak dikenal dalam sebuah sekolah? Aku
memang pernah bercerita sekilas tentang bagaimana aku dibully. Tapi bahkan
terkadang keluargaku juga sering menghinaku, di depan orang banyak. Dari situ,
aku merasa tidak menjadi orang yang berguna. Selama SMP, bukan tidak mungkin
aku menjadi orang yang ingin memberontak. Saat itu aku hanya merasa tidak
terima atas semua kejadian yang menimpaku. Mungkin itu suatu bentuk luapan
emosi yang selama itu tidak bisa aku katakan. Dari sinilah aku menjadi orang
yang introvert dan tidak mudah percaya dengan orang lain, karena bahkan orang
terdekatmu bisa mengkhianatimu. Seperti pada saat aku bercerita sebuah rahasia kepada
salah seorang sahabatku. Lalu suatu hari dengan mudahnya ia menceritakan rahasia
tersebut di depanku dan teman-temanku dalam sebuah lelucon.
Setiap hinaan yang mereka katakan kepadaku terukir dan
merusak mentalku. Benar-benar merusak. Bahkan jika dihitung, aku akan lebih
mengingat kejadian buruk daripada bahagia. Sebegitu trauma nya kah aku?
Kemudian ada saat dimana aku mulai bisa menyukai orang lain
dengan baik. Tapi kemudian dia mengkhianatiku sampai membawaku ke dalam trauma
lain.
Hingga aku pernah merasa bahwa aku mempunyai ‘alter ego’.
Seseorang yang berharga tentu akan selalu berusaha ia
lindungi. Tapi mungkin aku tidak seberharga itu. Lagi-lagi orang menghinaku
dengan mengatakan ‘alter ego itu tidak ada. Kamu hanya mengarang blabla’. Bagiku
itu sebuah penolakan mental. Rasanya, aku ingin bisa jatuh tanpa sakit, tapi
ternyata ia tidak menopangku. Aku ingin mengurangi rasa sakit, tapi yang aku
dapatkan malah sebaliknya.
Sesuatu seperti catcalling dan physical abuse tentu juga
pernah aku alami. Hal lain yang masih aku terima sampai sekarang adalah body
shaming. Bahkan teman terdekatku, atau seseorang yang lebih dari itu masih
melontarkan kata-kata tidak pantas itu, secara ‘teratur’. Sebenarnya, apa
kalian tahu bagaimana buruknya aku dibelakangmu sesaat setelah kalian menusukku
seperti itu? Aku rela mati-matian berusaha mengubah apa yang menjadi bahan
olokan kalian. Bahkan stres saat aku gagal. Karena apa? Takut untuk mendengar
kata-kata itu lagi.
Oh ya, aku juga sering mendengar ‘bagaimana bisa kamu punya
teman? Kamu bahkan tidak tahu bagaimana caranya blabla. Sampai kapanpun kamu
tidak akan bisa punya teman’.
‘kamu itu sok depresi’
‘mana bisa kamu ngelakuin hal itu?’
‘kamu itu gak sepintar aku’
‘dasar lemah’
Sangat ingat kepada kalimat-kalimat itu, yang dikatakan oleh
orang-orang terdekatku.
Apa yang sebaiknya aku katakan pada mereka? Terima kasih?