Aku tidak tahu, apakah aku harus bangga karena masih bisa mengingat beberapa hal yang terjadi di hidupku.
Tapi detik ini, sepertinya aku merasa cukup saja. Lebih baik aku tidak mengingatnya.
Atau mungkin bukan seperti itu. Lebih seperti, aku ingin merasa baik-baik saja dengan kejadian itu. Menghilangkan efek dari kejadian-kejadian tersebut.
Baru saja aku membaca tulisanku tentang bullying. Aku ingat, seseorang berkata padaku bahwa aku sok depresi. Iya, mungkin. Aku mengada-ngada, dan menambah-nambahi sesuatu. Memikirkan sesuatu yang tidak pernah terjadi. Dan, membesar-besarkan keadaan.
Kalau seperti ini, aku merasa sangat bodoh sebagai manusia.
Aku merasa menjadi manusia yang penuh drama.
Sekarang ini rasanya aku ingin di dalam kamar sendirian, mematikan lampu, mendengarkan lagu, dan memakai selimut.
Di saat-saat seperti ini aku merasa membutuhkan obat itu. Tapi kemudian keesokan harinya aku merasa itu tidak perlu. Aku merasa sembuh.
Lalu kupikir lagi, sebagai seseorang yang bertumbuh dewasa, alangkah baiknya jika aku harusnya menghadapi hal itu dengan lantang.
Harusnya aku selesaikan saja tanpa basa-basi.
Tapi ya begitulah aku. Manusia yang menyukai rasa was-was.
Here, All My Thoughts
We're all a little fragile.
Sabtu, 29 Februari 2020
Kamis, 06 Februari 2020
Ingin Kembali
Biarkan aku menderita. Biarkan aku bersedih. Biarkan aku merasakan semuanya. Bukankah aku baik?
Inilah hidupku. Hidup yang seperti bukan hidupku. Seperti hidup orang lain.
Menjadi boneka. Menjadi pemeran utama dalam script orang lain.
Biarkan aku lakukan semuanya. Sehingga mereka bahagia.
Melakukan yang tidak ingin aku lakukan.
Aku bersedih. Aku menangis. Aku meratapi.
Aku berdoa. Aku memohon. Aku merengek.
Tuhan, hidupku seperti dalam hidup orang lain.
Aku tidak diijinkan memilih.
Apakah waktuku disini masih lama?
Inilah hidupku. Hidup yang seperti bukan hidupku. Seperti hidup orang lain.
Menjadi boneka. Menjadi pemeran utama dalam script orang lain.
Biarkan aku lakukan semuanya. Sehingga mereka bahagia.
Melakukan yang tidak ingin aku lakukan.
Aku bersedih. Aku menangis. Aku meratapi.
Aku berdoa. Aku memohon. Aku merengek.
Tuhan, hidupku seperti dalam hidup orang lain.
Aku tidak diijinkan memilih.
Apakah waktuku disini masih lama?
Selasa, 19 Februari 2019
Konsisten
Aku agaknya memahami bahwa kehidupan merupakan sesuatu yang kompleks. Kita ini adalah sesuatu yang rapuh. Tapi hal yang menurutku penting untuk dipelajari adalah bagaimana menjalani hidup secara konsisten. Hal yang sering terjadi adalah ketika sesuatu yang baru datang, dapat menghancurkan segala hal yang telah kita persiapkan. Itu menjadi hal yang memuakkan ketika melihat rencana yang telah disiapkan menjadi berantakan. Aku tidak akan mengatakan ini adalah sesuatu yang mudah, untuk menjadi konsisten.
Tidak hanya menjadi dewasa, tapi memahami betapa pentingnya sebuah komitmen, terlebih kepada diri sendiri memang perlu waktu.
Kurasa cukup untuk melihat kelabilan terhadap diri sendiri. Tapi terkadang melihat orang lain melakukannya, rasanya ingin sekali aku memaki mereka. Seperti tidak sadar dengan diri sendiri. Tapi bukankah itu naluri setiap manusia?
Kupikir kita tidak perlu lah untuk setiap kali memamerkan apa yang ingin kita capai. Apa rencana yang ingin dilakukan.
Karena orang lain bisa beranggapan itu adalah omong kosong.
Apabila kita tidak masalah dengan perkataan orang lain, bukankah lebih baik diam daripada membuat mereka berdosa? Dengan memaki kita.
Tidak hanya menjadi dewasa, tapi memahami betapa pentingnya sebuah komitmen, terlebih kepada diri sendiri memang perlu waktu.
Kurasa cukup untuk melihat kelabilan terhadap diri sendiri. Tapi terkadang melihat orang lain melakukannya, rasanya ingin sekali aku memaki mereka. Seperti tidak sadar dengan diri sendiri. Tapi bukankah itu naluri setiap manusia?
Kupikir kita tidak perlu lah untuk setiap kali memamerkan apa yang ingin kita capai. Apa rencana yang ingin dilakukan.
Karena orang lain bisa beranggapan itu adalah omong kosong.
Apabila kita tidak masalah dengan perkataan orang lain, bukankah lebih baik diam daripada membuat mereka berdosa? Dengan memaki kita.
Rabu, 12 Desember 2018
Belas Kasih
Seperti.. Melihat peran yang sama pada orang lain.
Tapi sungguh. Kupikir setiap orang punya caranya masing-masing dalam menjalankan perannya.
Pada suatu alasan, aku lebih baik.
Pada alasan lain, aku yang terburuk.
Tentu, otomatislah aku berbelas kasihan.
Seperti bercermin.
Memandang diri, dalam tubuh yang berbeda.
Tapi kembali lagi.
Aku bukan mereka.
Aku hanya.. Mempunyai satu bilik cerita yang sama.
Yang mengantarkanku pada keibaan satu nasib.
Yang entah, akan berakhir di ujung yang sama.
Bukankah itu adalah baik?
Untuk mengiba..
Untuk berbelas kasih..
Dan untuk mengatakan,
"Akulah rumahmu".
Tapi sungguh. Kupikir setiap orang punya caranya masing-masing dalam menjalankan perannya.
Pada suatu alasan, aku lebih baik.
Pada alasan lain, aku yang terburuk.
Tentu, otomatislah aku berbelas kasihan.
Seperti bercermin.
Memandang diri, dalam tubuh yang berbeda.
Tapi kembali lagi.
Aku bukan mereka.
Aku hanya.. Mempunyai satu bilik cerita yang sama.
Yang mengantarkanku pada keibaan satu nasib.
Yang entah, akan berakhir di ujung yang sama.
Bukankah itu adalah baik?
Untuk mengiba..
Untuk berbelas kasih..
Dan untuk mengatakan,
"Akulah rumahmu".
Minggu, 05 Agustus 2018
Regret
Bukankah lenyap itu menyedihkan?
Karenanya aku tidak ingin meminta.
Aku lebih akan meminta kebahagiaan pada Tuhan.
Tapi, ketika perihnya adalah perihku, yang bisa aku rasakan.
Setidaknya beberapa kali aku meminta sesuatu yang salah pada-Nya.
Timbun saja perihnya, lalu bukankah itu akan jadi indah?
Mungkin tidak. Mereka sudah perih, sudah tersayat.
Dan aku melihatnya.
Kemudian merasakannya.
Pada akhirnya, tetap melakukannya.
Maaf.
Karenanya aku tidak ingin meminta.
Aku lebih akan meminta kebahagiaan pada Tuhan.
Tapi, ketika perihnya adalah perihku, yang bisa aku rasakan.
Setidaknya beberapa kali aku meminta sesuatu yang salah pada-Nya.
Timbun saja perihnya, lalu bukankah itu akan jadi indah?
Mungkin tidak. Mereka sudah perih, sudah tersayat.
Dan aku melihatnya.
Kemudian merasakannya.
Pada akhirnya, tetap melakukannya.
Maaf.
Rabu, 09 Mei 2018
Mental Breakdown
Pernah dilecehkan? Dihina? Aku kira sebagian besar atau
bahkan semua orang pernah mengalaminya.
Perasaan saat aku dilecehkan masih terasa sampai sekarang. Karena
memang hal itu masih terjadi. Mungkin sebagian orang masih belum paham
bagaimana seriusnya efek yang bisa ditimbulkan akibat penghinaan yang mereka
lontarkan kepada orang lain. Hanya, kali ini aku akan menceritakan apa yang aku
rasakan saja. Dan ini dibalik semua kekuranganku, yang mungkin membuat mereka
muak terhadapku.
Dari kecil, aku selalu dihina pendek. Bahkan mentalku sudah
dicabik sedini ini. Kalian tahu, bagaimana seorang anak SD yang dicap sebagai
anak yang ‘menjijikkan’ hanya karena ia tidak dikenal dalam sebuah sekolah? Aku
memang pernah bercerita sekilas tentang bagaimana aku dibully. Tapi bahkan
terkadang keluargaku juga sering menghinaku, di depan orang banyak. Dari situ,
aku merasa tidak menjadi orang yang berguna. Selama SMP, bukan tidak mungkin
aku menjadi orang yang ingin memberontak. Saat itu aku hanya merasa tidak
terima atas semua kejadian yang menimpaku. Mungkin itu suatu bentuk luapan
emosi yang selama itu tidak bisa aku katakan. Dari sinilah aku menjadi orang
yang introvert dan tidak mudah percaya dengan orang lain, karena bahkan orang
terdekatmu bisa mengkhianatimu. Seperti pada saat aku bercerita sebuah rahasia kepada
salah seorang sahabatku. Lalu suatu hari dengan mudahnya ia menceritakan rahasia
tersebut di depanku dan teman-temanku dalam sebuah lelucon.
Setiap hinaan yang mereka katakan kepadaku terukir dan
merusak mentalku. Benar-benar merusak. Bahkan jika dihitung, aku akan lebih
mengingat kejadian buruk daripada bahagia. Sebegitu trauma nya kah aku?
Kemudian ada saat dimana aku mulai bisa menyukai orang lain
dengan baik. Tapi kemudian dia mengkhianatiku sampai membawaku ke dalam trauma
lain.
Hingga aku pernah merasa bahwa aku mempunyai ‘alter ego’.
Seseorang yang berharga tentu akan selalu berusaha ia
lindungi. Tapi mungkin aku tidak seberharga itu. Lagi-lagi orang menghinaku
dengan mengatakan ‘alter ego itu tidak ada. Kamu hanya mengarang blabla’. Bagiku
itu sebuah penolakan mental. Rasanya, aku ingin bisa jatuh tanpa sakit, tapi
ternyata ia tidak menopangku. Aku ingin mengurangi rasa sakit, tapi yang aku
dapatkan malah sebaliknya.
Sesuatu seperti catcalling dan physical abuse tentu juga
pernah aku alami. Hal lain yang masih aku terima sampai sekarang adalah body
shaming. Bahkan teman terdekatku, atau seseorang yang lebih dari itu masih
melontarkan kata-kata tidak pantas itu, secara ‘teratur’. Sebenarnya, apa
kalian tahu bagaimana buruknya aku dibelakangmu sesaat setelah kalian menusukku
seperti itu? Aku rela mati-matian berusaha mengubah apa yang menjadi bahan
olokan kalian. Bahkan stres saat aku gagal. Karena apa? Takut untuk mendengar
kata-kata itu lagi.
Oh ya, aku juga sering mendengar ‘bagaimana bisa kamu punya
teman? Kamu bahkan tidak tahu bagaimana caranya blabla. Sampai kapanpun kamu
tidak akan bisa punya teman’.
‘kamu itu sok depresi’
‘mana bisa kamu ngelakuin hal itu?’
‘kamu itu gak sepintar aku’
‘dasar lemah’
Sangat ingat kepada kalimat-kalimat itu, yang dikatakan oleh
orang-orang terdekatku.
Apa yang sebaiknya aku katakan pada mereka? Terima kasih?
Senin, 29 Januari 2018
Keep It Or Loss It
Salah satu kalimat umum: "menyesal datangnya belakangan". Tapi ya.. Memang begitu. Seperti grafik 'want—have—lose'. Sepertinya tidak ada orang yang tidak pernah kehilangan sesuatu, benar?
Kenapa kehilangan kadang terasa menyakitkan? Karena ada 'sesuatu' di dalamnya. Entah itu something valuable, kenangan, atau yang lain. Karena jika itu tidak memiliki hal spesial maka tidak akan masalah. Kemudian beberapa dari kita memutuskan untuk tidak 'menyesal', karena ingin berpikir positif, merasa membuang waktu atau lebih ingin berfokus pada masa yang akan datang. Tapi rasa kehilangan pasti ada, iya?
Karena itu kalimat umum lain seperti "jagalah hal disekitarmu sebelum kamu kehilangannya & menyesal", ya.. Kurang lebih seperti itu.
Aku pernah menulis tentang penyesalanku kehilangan. Dan aku adalah orang yang tidak mudah menerima, maka aku berusaha mendapatkan itu kembali. Tapi, ada hal yang hanya terjadi sekali dan tidak akan pernah kembali kan? Karenanya aku lebih berhati-hati dalam menjaga sesuatu. Meski kadang sebuah 'kehilangan' menjadi bagian cobaan dari Tuhan, tapi apapun yang dimiliki sekarang harus dijaga dengan baik. Apapun itu.
Mungkin seperti ini, dimana saat kita menginginkan sesuatu maka hal itu menjadi sangat berharga. Tetapi saat sudah memiliki kadang merasa biasa saja, dan ketika kehilangan akan menjadi berharga lagi. Lalu bukankah kita harus belajar mengikhlaskan? Apa yang hilang adalah kehendak Tuhan dan kita harus menerimanya? Iya, tentu saja. Tapi suatu kehilangan memiliki pesan tertentu. Meski begitu, apa kita tidak ingin menghargai dan menjaga apa yang kita miliki? Memberikan yang terbaik dan sebagai wujud syukur atas apa yang telah diberikan-Nya.
Banyak dari kita yang mungkin belum sadar betapa pentingnya menghargai apa yang dimiliki. Harus diingat bahwa cobaan tidak selalu negatif. Apabila kita diberi sesuatu yang berharga maka itu juga bisa disebut cobaan. Cobaan untuk menguji apakah kita bisa menjaga pemberian-Nya dengan baik. "Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan." (QS Al-Anbiya:35).
Intinya, jangan sampai menyesal karena tidak dapat berbuat yang terbaik saat kita masih memilikinya. Menghargai dan menjaga benda, orang-orang sekitar maupun yang lain akan sangat menenangkan. Karena sesuatu yang telah pergi terkadang tidak akan bisa diambil kembali.
Langganan:
Postingan (Atom)