Kamis, 06 Oktober 2016

Benih

Malam itu aku benar-benar tidak menginginkan sesuatu yang spesial bersamanya. Aku bahkan tidak mengenalnya. Aku hanya ingin pergi―itu saja. Lantas kemudian aku sadar bahwa dia mulai mendekat. Apa yang terlintas di pikiranku sebenarnya tidak ada yang istimewa. Karena memang saat itu bukanlah dia. 
Sebenarnya untuk mencintai, bagiku, membutuhkan waktu dan rasa nyaman. Aku tahu posisiku saat itu. Entah dari pihaknya ataupun pihak orang lain. Sebenarnya aku masih ingin melihat lebih jauh tentangnya. Dan saat aku sadar akan sesuatu yang membuatku merasa sedikit kecewa, aku berusaha menenangkan diriku. Dan ternyata aku salah. Dugaanku salah. 
Dia tetap mendekat. Dan akupun mulai mendekat juga. Entah, sebenarnya masih ada perasaan yang membuatku merasa takut. Tapi inilah diriku sekarang, bukan berada di posisi yang sama lagi seperti dulu. Dan lagi karena dia yang membuatku merasa ingin tetap dalam posisiku sekarang. Jadi, kubiarkan kami dekat. 
Belum lama kami saling mengenal, belum lama kami saling mengerti satu sama lain, dan belum lama kami menghabiskan waktu bersama. Bukan hal yang tidak wajar jika dalam pandanganku hal seperti ini masih sangat kecil. Masih seperti benih yang harus dijaga dan dirawat. Karena pun meski jika sudah menjadi pohon besar, pohon itu tetap akan bisa tumbang. Setidaknya itu yang bisa aku rasakan dan aku lihat sendiri. 
  
Perlu waktu yang lama untuk membuat semuanya terlihat jelas dan terang.Tapi aku akan tetap menjadi aku. Dan jika memang semuanya sudah terlihat, aku akan siap berada di sampingnya dalam keadaan apapun.