I’m
like “yaas!”. Tidak terasa ternyata sekarang sudah memasuki tahun ke-1,5 ku
menjadi mahasiswa Ilmu Komunikasi di UPN. 3 semester sudah terlewati! Lets get
back on a year ago.
Setelah
melalui perjuangan panjang memilih mana yang harus aku ambil di perkuliahan
nanti, akhirnya kuputuskan untuk mengambil jurusan Sastra Inggris. Mengapa Sastra
Inggris? Karena banyak orang-orang yang support aku dan bilang “kamu pinter
bahasa inggris”. Oh, well, I’m not that good really! Akhirnya aku beranikanlah
mendaftar SNMPTN Sastra Inggris di Unair pada pilihan pertama. Untuk pilihan
kedua dan ketiga? Aku kosongkan... Well itu karena banyak yang bilang kalau
hanya memilih satu maka peluang diterima akan lebih besar karena hanya
mempunyai satu prioritas. But unfortunately I didn’t make it. Mungkin karena
ada 3 siswa lain dari sekolahku yang juga mendaftar (p.s: satu diantaranya
adalah saingan bagiku). Dang! I should face SBMPTN. Tidak dibekali dengan
bimbingan belajar yang harganya super mahal... Hanya bimbingan di kelas, yang
meskipun saat penggolongan kelas aku ranking 2 dan masuk dalam kelas unggulan,
nyatanya it ruined me still. I hated economics, a lot. Aku tetap tidak bisa menyerap
ilmu ekonomi. Cari-carilah try out dan akhirnya coba ke try out Unair. Saat itu
tidak terlalu serius mengerjakan, hanya sepengetahuanku dan atas dasar insting.
Sekalian mencari tahu tentang passing grade Sastra Inggris untuk dicocokkan
dengan hasil try out ku. Setelah beberapa hari keluarlah hasilnya. Aku ranking
82 dari 772 peserta. Not gonna lie tapi itu membuatku semangat.
Saat
akan daftar SBMPTN, aku bingung karena apa aku hanya akan memilih Sastra
Inggris? Orangtuaku menyuruhku memilih setidaknya dua pilihan, but I really
didn’t have any idea. Aku sangat pemilih saat itu. Pertama: tidak mau memilih
jurusan Manajemen, Akuntansi dan sebagainya karena berkaitan dengan ekonomi;
kedua: tidak mau memilih jurusan Hubungan Internasional, Hukum dan sebagainya
karena berkaitan dengan politik. I hated economics and politics. Astaga! Aku melupakan
sesuatu yang penting.
Aku
menyukai desain. Aku suka menggambar, membuat kerajinan, dan aku selalu
semangat ketika pelajaran seni. Sebenarnya hanya tiga pelajaran yang aku ikuti
dengan semangat; bahasa inggris, seni, dan olahraga. Singkat cerita aku ingin
jurusan Desain Interior di ISI Jogja. Tapi orangtua tidak mengizinkan karena terlalu
jauh. Kenapa tidak ITS? Karena tes masuknya IPA, dan aku tidak yakin bisa masuk
tanpa bimbingan keras. Aku sangat sedih karena tidak bisa mencoba mendaftar.
Aku
jalan-jalan untuk melihat semua universitas negeri yang ada di Surabaya. Ketika
melihat gedung FIB Unair, hatiku langsung leleh dan mulailah berandai-andai (of
course i did!). Lalu ketika masuk ke UPN, aku langsung kaget. Sangat berbeda
dari Unair, Unesa dan ITS. Saat melewati gedung kuning bertuliskan FISIP, aku
sempat mengumpat “ih jalannya kok belum paving, panas lagi.”
Oke,
setelah menerka-nerka jurusan apa yang pas, akhirnya aku memilih Ilmu
Komunikasi. Sebenarnya alasan memilih jurusan ini sangatlah random, yang
penting tidak memiliki kedua unsur diatas (ekonomi dan politik (setahuku dulu)).
Terdaftarlah tiga pilihan untuk SBMPTN yaitu; 1: Sastra Inggris Unair, 2: Ilmu
Komunikasi Unair, dan 3: Ilmu Komunikasi UPN. Saat tiba tes di Unesa, gips di
ruanganku tiba-tiba ambruk dan hampir mengenai peserta lain. What the heck? Dan
saat melihat soal-soal, aku langsung ciut.
Beberapa
minggu setelahnya, mengetiklah www.sbmptn.ac.id.
Oke, aku langsung menangis. Literally.
Sebenarnya
hal yang paling membuatku tidak nyaman adalah karena aku tidak diberi
kesempatan mendaftar di Desain Interior. Itu membuatku terpuruk selama sekitar
satu tahun. Karenanya, saat semester satu aku tidak benar-benar mengikuti
kuliah dengan baik. Sampai suatu ketika ada yang selalu berkata padaku bahwa
aku harus pintar, aku harus ikut organisasi, aku harus aktif. Itu membuatku
sangat tidak nyaman, apalagi dengan keterpurukanku. Tapi aku memang orang yang
mudah tidak terima. Semester dua aku mencoba ikut beberapa kepanitiaan dan
melakukan ini-itu. Sampai suatu ketika akhirnya orang itu mengakuiku.
Ilmu
Komunikasi. Hmm, sepertinya aku meleset untuk menghindar dari dunia politik. Bukan
karena jurusannya, tapi karena fakultas yang menaungi jurusanku. Ingat umpatanku
pada gedung kuning? Itulah gedung dimana aku belajar sekarang. Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik. Dang.
Awal-awal
kuliah sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi tidak begitu spesial, itu karena
kekecewaanku saja makanya menjadi datar. Terlebih karena memang kuliah sangat
santai. Saat UTS pun bisa pergi dengan teman-teman ke pantai. Sampai yang aku
suka dari jurusan di kampus ini adalah laboratoriumnya, yang kemudian ‘seakan’
berubah menjadi media. Ada tv, film, advertising, radio dan fotografi. Aku memilih
media film yang disebut Kinne Komunikasi.
Semester
dua seperti mencari cara untuk mendapatkan energi baru. Tidak boleh
terus-terusan stuck dan kecewa. Dan akhirnya itu membuahkan hasil. Setidaknya nilaiku
baik. Kemudian semester 3. Ini seperti menjadi sosokku yang baru. Berusaha mencari
ini-itu, handle ini-itu, daftar ini-itu. Di akhir semester sepertinya aku yang
dulu telah kembali. Orang yang perfeksionis dan keras. Karena aku sudah punya
tekad dan tujuan. Aku menerima keadaanku sekarang, dan aku nyaman. Menjadi mahasiswa Ilmu Komunikasi ternyata tidak buruk. Setidaknya aku dapat berbicara dengan menggunakan ilmu yang pernah aku pelajari. Haha! After all itu hanya tentang keinginan yang dalam. Aku masih ingin menjadi desainer, dan jika Allah menghendaki maka aku masih akan berusaha mendapatkannya. My decision is to accept it, and get it when its the right time.
Memang
hal yang diinginkan belum tentu baik untuk kita. Tetapi kita tidak tahu apakah
kita memang tidak layak mendapatkannya ataukah harus berusaha mendapatkannya. Setiap
detik mempunyai arti, setiap arti mempunyai tujuan. Apabila kita berusaha dan
selalu meminta petunjuk-Nya, jalan akan dipermudah, inshaAllah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar